Sepenggal Bulan

Malam tanpa bulan itu seperti nasi goreng tanpa telur. Tetaplah nikmat, tapi kurang lengkap.

Aku ingin malam dengan sepenggal bulan saja, jangan terlalu terang, jangan terlalu redup, Tuhan. Biarkan semu-semu keemasan seperti bakwan habis dari penggorengan.

Aku tak pernah melihat sepenggal bulan terang, ia selalu murung. Entah kenapa. Padahal anak kecil suka cita bermain di luar, menikmati cahaya indahnya. Mungkin ia sedih karena merasa tak utuh, terbelenggu bumi.

Jangan berikan aku bulan yang utuh, aku ingin sepenggal saja, Tuhan.
-Pesanku pada Tuhan di suatu malam. Sembari menutup buku menu makanan.

Surakarta, menjelang tengah malam

ayo tidur sayang~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s