Untuk Mereka, Nilai yang Tak Boleh diabaikan

Kita tidak pernah mengira hendak berdiri atas nama siapa, dengan kepentingan apa, dengan keadaan seperti apa di hari esok kelak. Bisa jadi hari ini kita sama rata seperti rakyat biasa. Pun bisa jadi besok kita sama seperti petinggi negeri itu. Tapi sudah jadi ajaran dari manusia tertua, bahwa kebenaran, keadilan, kesejahteraan jadi alasan, jadi tujuan, jadi pegangan kita untuk hidup.

Oleh karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan melakukan hal kebenaran sejak saat ini. Agar besok, ketika apa yang kita sandang, apa yang kita bawa di pundak, apa yang orang lain percayai atas nama kita, kita selalu membawanya dalam jalan yang benar.

Terkadang kita tidak pernah mengira akan berdiri di barisan yang mana, dengan identitas apa, dengan tujuan apa. Tapi selagi yang ada dan tumbuh di pikiran, hati, serta tindakan kita adalah kebenaran, maka berkumpullah semua energi kebaikan-kebaikan itu melawan ketidakbenaran yang ada, selalu muncullah kesempatan itu untuk melawan, akan ada waktu di mana kita harus menyuarakan.

Sebuah jalan perjuangan, cerita-cerita yang menggebu, teriakan-teriakan lantang, mimbar-mimbar terbuka, nyala api yang tegak. Kita memang mengenakan banyak sekali warna berbeda. Kita dari bagian Indonesia yang jauh, berkumpul di satu tempat. Kita berpikir banyak hal, tapi ada satu soal yang membuat kita harus bergerak. Kita berasal dari banyak sekali sumbu-sumbu logika, idealisme, tapi yang menyatukan kita selama ini adalah sebuah nilai kebenaran. Sebuah tindakan haus keadilan.

Sering kali pula kita lupa. Dari banyak warna kita melihat perbedaan, dari banyak tempat kita mengukur jarak, dari sekian banyak otak kita buat standarnya. Kita atau lebih tepatnya aku, sering terbawa. Pada ingatan-ingatan lama. Aku untukku, kamu milikmu. Dan semuanya membuat pagar-pagar, rantai-rantai, garis-garis tak berujung. Tanda-tanda untuk menandai kekuasaan, daerah teritorial, dan haknya masing-masing. Tapi sebuah nilai yang tak boleh habis meski takdir kita kian tragis. Nilai-nilai itu untuk mereka, nilai keadilan, kebenaran, menjadi satu. Maka berkumpullah banyak kebaikan, kemudian hancurlah pagar-pagar penyiksa itu. Beralih menjadi ikatan antar tangan berwarna baju beda. Kami mengikat untuk melindungi, untuk membuka kenyataan-kenyataan. Untuk menjadi satu kesatuan.

Maka, jika dianalogikan seperti ini; untuk menjadi pahlawan, kamu tidak perlu menganggap orang lain sebagai penjahat. Untuk menjadi dermawan, kamu tidak perlu memandang orang lain sebagai seorang yang kekurangan. Untuk menjadi dirimu, kamu tidak perlu berbuat seperti orang lain. Untuk berbuat baik, kamu tidak perlu menghardik orang yang belum berniat berbuat baik. Kamu adalah kamu, lakukan saja yang baik untukmu. Niscaya, jika orang lain itu bisa berpikir, ia akan mengikuti jejakmu.

Kita berjuang pada sumbu masing-masing, pada pucuk api yang berkobar di ujungnya. Tapi kita masih dalam satu kompor yang sama. Di mana kompor inilah yang memberikan semangat, amunisi, kekuatan yang besar, yang mempersatukan. Sebuah ketetapan, dari apa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Meskipun tidak menjadi perencana yang baik, alangkah lebih baiknya kita menjadi eksekutor yang apik!

Melewati malam, di kota yang diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s