Bisakah kita simpan cinta barang sejenak?

Aku suka caramu berbicara, menatap tajam padaku ketika kita saling beradu pikiran. Kadang dirimu lebih unggul, kadang aku yang tak bisa berhenti karena kau yang sulit dimengerti. Sungguh, roman ini menyenangkan. Tapi aku tak mau terjebak asmara yang penuh luka.

Aku menyukaimu saat kau bicara kebenaran, saat kau berdiri menguasai mimbar-mimbar, mengembara di atas malam, merawat siang yang semangatnya padam. Aku mencintaimu seperti pahlawan, kau kobarkan cinta dari kebaikan-kebaikan, ketika kau teriakkan pembelaan dan kau ucap kasar untuk cecunguk pemuja materi. Aku benar-benar berdoa menemuimu lagi, untuk tahu namamu, untuk mengenal dirimu, untuk menjadi surga dari penerusmu.

Tapi tunggu. Bisakah kita lepas dari ini; ya cinta.

Bisakah kita tanggalkan sebentar itu? Biar kita menjadi apa adanya yang tak perlu memikirkan suatu hal setelah pembicaraan ini, biar kita tak pusing-pusing bergelut pada hati masing-masing. Karena aku tahu, aku atau dirimu akan mempunyai banyak pilihan yang berbeda. Jadi mari kita bersenda gurau lagi tanpa ada hasrat mencintai, atau memiliki. Sesungguhnya inilah jalinan asmara yang mengesankan. Kita saling suka karena terbiasa, karena tak pernah ada tujuan untuk memiliki tapi pada akhirnya membelenggu, tanpa bermaksud mencintai tapi melukai, atau berangan saling menyayangi tapi tersakiti.

Aku ingin seperti angin, yang datang tak tentu waktu. Bersamanya datang sejuta pertanyaan. Hujan, badai, angin ribut, angin topan, atau semilir angin sejuk. Tak tentu. Aku ingin seperti itu. Bebas dan tegas. Menyandera kebingungan tapi beralasan. Dan cinta, biarkan itu tersimpan di laci belajar dulu. Aku lebih suka memandangmu saat bicara di atas angin. Menunjuk keras angin, mengibas angin dengan seruan tajammu. Menatapku penuh semangat dan mengepal tangan. Aku lebih suka padamu yang begitu.

Jadi, maukah kau menitipkan sebentar cinta yang kau miliki padaku? Dan kutitipkan cintaku padamu untuk kau jaga. Kelak saat kita bersua lagi, kuharap cinta itu masih utuh; milikku dan milikmu yang terlanjur tersimpan rapi dan tak ingin dipindah lagi dari laci.

Bukan mencintai dalam diam, tapi menyimpan cinta dalam kebiasaan. Menumbuhkan cinta tanpa ingin tahu sebesar apa cinta itu tumbuh. Memupuk cinta tanpa ingin tahu sampai kapan ia tumbuh subur. Karena semua akan semerbak pada waktunya. Tanpa kita sadari dari awal pandangan dan percakapan biasa.


Surakarta, aku rindu gaung suaramu di jalanan waktu itu.

Advertisements

2 thoughts on “Bisakah kita simpan cinta barang sejenak?

    • Cinta itu bukan subjek, objek, atau keterangan tambahan. Menurutku cinta itu paham. Ia adalah pengetahuan soal kemanusiaan, logika, kepekaan, dan rasa. Hehe, menurutku sih yaww

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s