Kampung dan Kampus

Aku adalah seorang mahasiswi yang masih menapaki awal perjalanan panjang. Baru kurasa beberapa praktikum saja yang menyulitkan. Aku seorang gadis di sebuah desa kecil yang sedikit terpelosok di dalam kerumunan sawah dan gelapnya malam. 

Kampung dan kampus, dua tempat yang membesarkanku sampai sekarang. Tempat di mana aku selalu belajar dan memaknai kehidupan. Di kampung aku belajar toleransi. Toleransi yang bukan sekadar perbedaan agama dan ras saja. Tapi bagaimana kita menahan ego masing-masing guna menjaga sebuah tali; “pertetanggan”. Di kampung aku mengenal guyub. Kerumunan banyak orang yang saling tertawa, menggosip, membantu yang lain, dan sebagainya. Di kampung juga aku memahami arti “manusia adalah makhluk sosial”. Setiap manusia pasti memiliki insting sosial, kata salah satu temanku. Di kampungku, yang notabene masih guyub dan riwuh ketika ada sambatan, membuatku memahami apa arti membantu sesama, menyokong kebutuhan, menutupi kekurangan. Di sini kami selalu ikut andil bahkan tanpa diabsen sekalipun. Karena tanggung jawab moral yang lebih besar yakni “nanti kalau kita ada butuh, misal keluarga kita meninggal biar ada yang bantu. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri” kata Ibuku.

Kampungku memang tidak besar. Terpelosok sejauh 2,5km dari jalan raya utama. Tapi fasilitas sudah sangat mumpuni bahkan sinyal 4G sudah melayaniku menggarap laporan praktikum. Tapi bukan berarti berkembangnya saspras membuat SDM kampungku juga maju. Terbelenggu doktrin bahwa bekerja lebih baik daripada kuliah, dan seorang sarjana tetaplah akan menjadi pengangguran dan buruh serabutan, seakan sudah membungkus logika pemudanya. Mereka memilih bersekolah di sekolah kejuruan dengan cita-cita segera bekerja. Memang baik, tapi kini bertumpuklah generasi buruh, pekerja serabutan, atau kasar. Di mana tak ada lagi perbaikan keturunan yang signifikan. Merantau dan kembali bawa anak. Sungguh menyedihkan. Terlebih tingmat keimanan yang cenderung tipis. Hal ini dimungkinkan karena tingkat kecerdasan, pola pikir, dan pengetahuan yang kurang. Sehingga masyarakat seperti ini selalu diberi stigma rendah. Namun, yang kuharapkan bukanlah demikian. Aku selalu bersyukur atas rahmat Tuhan sehingga aku bisa menjejak dunia perkuliahan, mengenal banyak orang dengan latar belakang beragam, pola pikir yang heterogen, dan semakin membuka cakrawalaku ke dunia yang lebih luas. Aku berharap masyarakat kampung tetap berkembang sesuai kebutuhan zaman, tetapi tidak melupakan identitas dirinya. Susah sekali meruntuhkan kebiasaan-kebiasaan yang terlanjur berlarut-larut. Susah sekali memberi pengertian pada orang tua bahwa jangan membiasakan anak jajan atau makan makanan dengan bahan pengawet, kurang higienis, dan tidak mengindahkan gizinya. Susah sekali bagiku memberi pengertian soal forum, manajemen, dan pola pikir berorganisasi meskipun pada pemudanya.

Belakangan ini aku mengamati. Bahwa sejatinya kita hidup bukan atas nama sebuah kepantasan, kenormalan, tapi kebiasaan. Itu yang terjadi di kampungku. Ketika misalnya, ibu-ibu terbiasa mengikuti arisan hingga menumpuk daftar nama lebih dari 5, sedangkan ia tidak memerhatikan gizi masakannya. Sungguh ironi. Atau pemudanya yang merasa lebih tua, lebih berpengalaman, lebih mampu untuk ikut ngrumpi sana sini, dianggap sosok pahlawan. Meskipun selalu menyuguhkan masalah dan mencaci mereka yang mencoba menawarkan solusi. Herannya, si pemuda tua tadi pun enggan memberi solusi. Hmm.

Sebenarnya, haruskah kita bergerak dari sebuah massa yang banyak tanpa dasar yang kuat? Atau kita ciptakan pergerakan dengan pondasi kokoh meskipun hanya segelintir orang atau bahkan hanya diri kita sendiri yang bergerak?

.

Kampus, aku mulai besar di sebuah universitas yang terkenal biayanya yang murah. Tergabung dalam fakultas yang terkenal elegan, aku tetaplah aku. Kampus adalah muara ke dua yang membuatku belajar banyak soal kehidupan. Kampus juga yang membekaliku untuk hidup berkepanjangan. Kampus, tempatku menimba segudang ilmu pengetahuan dan harus bersumpah untuk menerapkannya di dunia nyata; kehidupanku dan kampungku.

Kampus, aku mulai bergerak di beberapa organisasi internal kampus, baik di fakultas maupun universitas. Semua kelembagaan yang kuikuti tak jauh dari kontribusi mahasiswa pada lingkungan; masyarakat. Mahasiswa selain terbebani oleh SKS, IPK, dosen, praktikum, dan sejenisnya, juga memikul tanggung jawab moral yakni pengabdian. Mahasiswa tak urungnya anak negeri sepertiku; gadis kampung. Hidup kami juga diawali dari daerah kami masing-masing. Kami hanya sejenak pergi untuk kembali bersama sejuta mimpi untuk daerah kami yang lebih baik. 

Kampus, derajat kehidupan lebih layak. Membawa janji menjadi pejabat. Sukses di luar kota, dan lupa pada kerabat desa. Kampus, muara kebahagiaan bagi mereka yang mau belajar, dan muara hedonisme bagi mereka penikmat dunia.

Secara tidak sadar, aku mengembang pesan masa depan untuk kampungku melalui dunia perkuliahan di kampus. Ada banyak polemik yang harus dituntaskan, bukan diabaikan. Jika bilang itu susah, maka jangan katakan aku masih hidup. Hidup dalam kampus, kuliah, praktikum, organisasi, event, dsb. Pertanyaannya, apakah cukup kita dikatakan seorang mahasiswa jika telah menggelar sebuah perhelatan akbar yang dinikmati hanya segelintir orang? Bahkan tidak menyentuh jiwa-jiwa masyarakat? Cukupkah kita menjadi mahasiswa jika mampu ikut bergoyang di acara hedon? Cukupkah waktu yang telah kita habiskan kemarin untuk menjawab salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi; pengabdian? Apakah cukup kita menunggu waktu KKN untuk mendapat pernyataan “telah berkontribusi” bagi masyarakat? Cukupkah rapat-rapat organisasi kita, untuk membawa pola pikir dan solusi atas permasalahan masyarakat kelas bawah, yang notabene masih sulit memahami?

Menjadi mahasiswa, aktif berorganisasi, aktivis kampus, dan merasa sangat banyak berkontribusi di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar kampus. Aku memahami bahwa masyarakat memiliki tingkatannya masing-masing, dan masyarakat lokal sekitar kampus biasanya telah mencapai tingkat masyarakat madani. Sedangkan masyarakat seperti di kampungku yang hidup karena grubyak-grubyuk sing penting melu liyane, adalah tantangan tersendiri. Mampukah dengan sekian banyak nilai, pujian, tempaan tugas di kampus membuat kita bisa mengadvokasi masyarakat menjadi lebih madani dan membawa mereka pada tingkat kesejahteraan?

.

Kampung dan kampus. Dua tempat berbeda yang mengajarkanku untuk selalu ingat. Ada banyak alasan mengapa aku bisa berdiri sekarang, dan ada banyak PR masa depan yang mesti kurampungkan.

Sebuah kampung yang kusuka, kubawa cintanya pada masa aku belajar di kampus. Kembalilah aku pada rentang waktu yang baru. Untuk kampungku

Sebuah kampung yang kusuka, kubawa cintanya pada masa aku belajar di kampus. Kembalilah aku pada rentang waktu yang baru. Untuk kampungku!


Kampung adalah tempatku dibesarkan dan hidup menua. Oleh karena itu lebih baik kita selalu menahan ego untuk menjaga kerukunan.Kampus adalah wahana bermain menyenangkan. Terkadang membuatku lupa pada dunia yang lebih fana. Oleh karena itu, segera tuntaskan. Lalu terjun pada kefanaan yang sebenarnya; kampung.

Merenda mimpi warisa masa depan.

Klaten, 14 Mey 2017

Advertisements

2 thoughts on “Kampung dan Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s