Sepertiku, yang belum bisa pulang (lagi)

“Lebaran pulang kan? Libur berapa lama?”

“Maaf, Ma. Belum bisa pulang. Mendadak dosen minta ada kunjungan awal bulan besok.”

“Tapi kamu satu tahun belum pernah pulang.”

“Aku juga nggak bisa apa-apa, Ma. Maafin ya.”

Jauh aku bertualang, aku akan pasti pulang


Bulan Ramadhan tertinggal 10 hari lagi. Hari ini aku masih menjalani UAS semester genap. Nesok adalah hari terakhir, dan merupakan hari terakhir aku dan teman-teman rantau menetap di Solo. Sayangnya, suatu pengumuman membuat kami risau. Di pertengahan bulan Juli, kami diwajibkan mengikuti serangkaian kunjungan dari suatu mata kuliah. Keputusan yang mendadak dan sedikit sepihak ini membuat hati teman-teman rantau luar pulau benar-benar terluka. Untuk pertama kalinya, mereka tak bisa merayakan lebaran bersama keluarga. Harga tiket pesawat yang jelas lebih mahal dari uang saku bulananku menahan mereka di titik-titik air mata yang mereka jatuhkan. Bayangan akan menyantap masakan rumah, bertakbir di masjid kampungnya, bersalaman dengan sanak saudara, pupus, luluh, dan mengalir deras bersama luapan tangis kesedihan ini.

Ada masa di mana manusia memang harus menjalani hidupnya sedemikian sulit. “Harus prihatin” kata Ibuku. Tapi kenyataan yang benar-benar berbeda, menjadi luka yang tak terobati sekajap mata.

Aku bukanlah mahasiswi rantau yang sulit untuk pulang ke kampung halaman. Cukup 1,5 jam aku bisa bersua dengan Ibu dan Ayahku. Cukup 48km jarak dari rumah hingga kampus kujalani dengan sepeda motor kesayanganku, Reddo, atau berkereta jika memang sedang lelah. Tapi aku memahami apa yang dirisaukan teman-temanku. Hampir 1 tahun penuh mereka tak bisa menjamah rumah, bertemu tetangga masa kecil, dan bersilaturahmi di hari baik.

KepadaMu sesungguhnya, yang Mahamengetahui dan bijaksana, Yang Mahamempunyai hati makhlukMu. Sesungguhnya adalah kewajiban kami menuntut ilmu, tanggung jawab kami untuk lepas dari kebodohan. Namun, tiadakah waktu yang bisa kami sempatkan untuk bersimpuh di depan orang tua kami saat hari suci nanti? Ramadhan telah kami bagi porsinya untuk masalah duniawi. Lalu apa kami harus jauh dari surga kami di rumah? Di ujung kaki Ibunda?

Beginikah menanggung berat menjadi mahasiswa, yang kepulangannya membawa mata air kehidupan, mengentaskan kegersangan di kampung halaman. Seberat beban yang kami tanggung bersama, bukan hanya masa depan kami sendiri, tapi soal banyak sekali tanggung jawab intelektual terhadap masyarakat, lingkungan, dan keluarga.

Kepada temanku yang jauh, aku benar-benar tak bisa menjangkau kesulitanmu. Tapi aku tahu, dalam segala tangismu, doa untukmu kembali, jauh di sana Ibumu benar-benar menyayangimu. Bahkan merelakanmu untuk semua kebaikanmu. Seperti itulah orang tua, kemudian sayangilah mereka hingga tiada akhir. 

Advertisements

3 thoughts on “Sepertiku, yang belum bisa pulang (lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s