Ketika Ramadhan Berpamitan

Ramadhan telah membereskan beberapa barang bawaannya. Kuminta untuk singgah barang sehari dua hari, ia menolak. Kujanjikan kare terenak dari ibuku, menonton film bersama kakakku, dan menulis lagi bersamaku. Ia menolak. Ia akan kembali setahun lagi, jika Allah masih berkenan. Ia janjikan hal yang sama, kenangan yang lebih indah, dan tantangan yang lebih berat. Ia titipkan pesan untuk jangan melupakannya, jangan meninggalkan kebiasaanku saat bersamanya, kalau bisa lebihkan lagi ibadah ini hanya untuk Allah. Pesannya begitu dalam, hingga aku tak mampu memeluknya erat, tangisku lebih keras dari kemampuan ototku memeluknya.

Ramadhan sempat singgah sebulan belakangan ini. Aku habiskan beberapa waktu dengannya. Sesekali kami mengaji, taraweh, atau berbincang dan bertukar pikiran soal masalah kekinian. Dia mengajarkanku banyak hal, pun aku memberikan segala yang kupunya jika itu bermanfaat. Tidak banyak yang kita lakukan karena waktu begitu cepat berlalu. Dan kini, ia akan segera pergi.

30 hari telah kuhabiskan, aku membuat tajuk pada instagram karyaku; “30 Hari Bersajak Bersama Tuhan”. Kalian bisa membacanya di akun instagram @sukmaaksara. Beberapa untaian kalimat pendek itu kuambil dari percakapan kami; aku dan Ramadhan. Terkadang dari pikiranku sendiri dalam memaknai sosok Ramadhan. Ini hari terakhir, dan malam ini akan ramai ucapan lebaran, takbiran, dan bau masakan rumahan. Tapi Ramadhan justru minta pamitan.

Berat kusampaikan rindu dan seribu penyesalan. 30 hari yang penuh tapi secuil-cuil kuberikan pada Sang Pencipta. Secuil lainnya kuambil untuk duniawi, keegoisanku, dan sifat manusiawi lainnya. Sungguh menyesal diri ini. Ramadhan selalu berpesan, bahwa jangan sekali-kali menutup hati, menutup logika, menutup kebaikan-kebaikan yang ada dalam qalbu. Jangan pernah mematikan hati, menjauhkan diri dari agama, karena yang selalu mengerti tentangku hanyalah penciptaku. Terkadang aku merasa terluka, malu, dan menyedihkan. Tapi Ramadhan juga selalu mendorongku dan meraihku agar jangan mudah terpuruk.

Ramadhan memang baik, dibawanya banyak kebaikan bahkan hanya dalam 30 hari dari 356 hari lainnya. Ia suguhkan waktu yang paling berharga untuk manusia bermesraan dengan Tuhan, untuk manusia merenungi kehidupannya, untuk manusia kembali pada fitroh sebenarnya. Ramadhan sungguh baik, dibawanya kebahagiaan di setiap kumandang adzan yang biasanya diabaikan dari 356 hari lainnya. Dibawanya senyum-senyum anak yatim piatu, dhuafa, dan kaum kurang mampu. Karena diberikannya kesempatan dan harta yang cukup bagi orang beriman untuk bersedekah. Ramadhan begitu baik, hingga Allah berikannya sekali setahun. Begitu adilnya Allah, disampaikannya kembali pengingat-pengingat keimanan selama 30 hari untuk menusia menyadari seberapa jauhnya mereka mulai menyimpang. Begitu baiknya Ramadhan, ia pergi meninggalkan sejuta tangis umat, mengharap disambanginya lagi tahun-tahun berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s