Narasi Pembuktian

Aku dan kakakku masih berbisik berisik sehabis sholat Isya berjamaah. Mukena yang kukenakan belum juga kulepas, kubalik bagian jilbabnya, kusibakkan ke belakang seperti rambut yang terurai. Kami berdiskusi dan berpikir, menimbang hadiah yang cocok untuk Papa kami yang esok pagi berkurang usianya.

“Bagaimana kalau roti?” Kataku.

“Jangan, kita nggak punya uang yang cukup.” Tegas saudaraku.

“Hmm, yasudah, kasih kata selamat dan ciuman saja.” Balasku.

Kami menyudahi malam dengan bergurau bertiga; aku, kakakku, dan papaku. Mamaku sedang jaga malam di ICU RSUP Soeradji Tirtonegoro. Kami menanti pagi yang sumringah karena Papa akan berumur 49 tahun.

Aku belum bangun, ketika adzan Subuh memanggil. Tapi Papaku sudah. Ia segera mejalankan ibadah sholat Subuh selepas iqomah terdengar. Biasanya aku dan kakakku akan sholat Subuh pukul 05.00, sedangkan adzan Subuh berbunyi pukul 04.35. Baru saja hendak membangunkanku, suara gemuruh dan goyangan tanah mengagetkan Papaku. Dengan segera ia menarik tanganku dan kakakku, padahal kami benar-bemar belum bangun dan belum tahu apa yang terjadi. 11 tahun berlalu. Gempa membangunkan kami lebih pagi, Mamaku menangis sepanjang jalan dari tempatnya bekerja hingga rumah. Banyak korban dibawa ke UGD, dia tak sanggup membayangkan keadaan keluarganya di rumah. Untung kami berempat selamat di dua tempat. 11 tahun berlalu, kami tinggal di rumah yang dulu sempat separuh hancur, dan sisanya berdiri dengan bantuan bambu penyangga. Rumah ini adalah warisan dari kakek buyutku dari keluarga Papaku. Separuh yang hancur telah berdiri baru dengan konstruksi yang hampir sama. Separuhnya masih utuh semenjak gempa terjadi.

Kesempatan dan amanah menjadi Lurah, tidak dimanfaatkan Papaku untuk memperkaya diri. Bolak-balik ditawarkan sejumlah investasi berwujud tukar guling ditolaknya. Beliau tahu bahwa hal ini tidak benar. Maka ia tidak setuju. Bantuan selalu diwujudkan. Tidak ada ceperan yang dia minta atau dapatkan seperti perangkat desa lainnya. Meskipun keadaan rumah kami yang sebagian kian mengenaskan.

11 tahun meninggalkan retakan gempa, semua rumah yang mendapatkan bantuan setahun setelah gempa terjadi, berdiri kokoh lebih bagus dari sebelumnya. Sedangkan rumah kami tidak. Papaku tidak memanfaatkan posisi Lurahnya untuk memperbaiki rumah. Baginya, gajinya hanya hasil dari sawah bengkok milik desa.

Fenomena dan gejolak politik tingkat desa pernah kualami. Jangankan masalah memilih pemimpin seiman atau pekerja keras, isu agama, hingga pengkhianatan. Semua kurasakan pada pemilihan Lurah selanjutnga setelah periode Papaku habis. Papaku mencalonkan diri lagi, melawan mantan Lurah yang ia tumbangkan sebelumnya. Duel hebat terjadi. Isu agama lebih kengerikan daripada masalah Ahok. Fitnah keji sampaj penjemputan dan doktrin paksa oleh lawan main mewarnai pemilihan Lurah yang dilakukan 2 ronde ini. Tapi takdir memang memihak kami. Meski Papaku tak lagi diamanahi menjadi Lurah, kakakku tetap bisa kuliah di universitas ternama, dan aku masuk SMA favorit di Klaten.

Selama ini juga, aku berlindung dari hujan dan panas terik. Guntur dan gemuruh petir menyambar sesekali di atas awan hitam desaku. Selama itu juga, terkadang dapurku banjir air hujan. Sedekade lebih, aku tidur dengan usikan tikus, kodok, kecoa, dan cicak setiap malamnya. Terkadang aku menangis dan sedih. Rumah kami bagaikan suaka margasatwa mini. Belum lagi, sebagian tanah pekarangan warisan ini direbut saudara kakekku. Sayangnya, setelah mengambilnya secara paksa, sang empunya justru menjadikannya ruang yang kotor, jogangan sampah rumah tangga, dan sama sekali tidak mau mengurusnya. Rumah kami kian hari semakin menjijikkan.

11 tahun berjalan setelah gempa, hampir 5 tahun meninggalkan goresan luka pemilihan Lurah. Rumah kami tetap sama. Berdiri reot, dihiasi lurik retak, dan hewan liar. Selama itu juga, kastanisasi terjadi. Dirasa tidak menjadi tokoh di desa, Papaku tersingkir. Bukan bermaksud selalu ingin dihormati atau gila hormat. Tapi semua berubah, keluarga kami tak lagi diindahkan seperti yang lain. Entah karena apa, mungkin karena Papaku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan, di rumah, menganggur. Sedangkan Mamaku semakin giat bekerja, sadar bahwa menguliahkan kakakku di UGM dan aku di SMA tidaklah sedikit biayanya. Siang malam, pagi sampai sore, jarang mengambil cuti, hanya untuk mendapat uang lauk pauk dan gaji yang cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Karena tekunnya bekerja, hingga terkadang Mamaku tidak mengikuti kegiatan ibu-ibu di desa yang memang kurang produktif menurutku. Kegiatan itu bukan meningkatkan kualitas dari ibu-ibu, tapi hanya ajang berkumpul dan bergosip, memutar uang dengan arisan, dan menghabiskan waktu. Karena memang ibu-ibu ini bekerja sebagai pencetak batu bata dan ibu rumah tangga. Jadi, tidak heran juga jika Mamaku tidak mengikuti kelas sosialita seperti arisan itu. Karena memang Mamaku pulang ke rumah sudah hampir waku Magrib, dan harus mengurus rumah. Hal ini membuat Mamaku justru dijauhi oleh sebagian ibu-ibu. Aku juga tak tahu sebab jelasnya. Mungkin karena Mamaku tidak mengikuti kegiatan semacam itu, sehingga dianggap tidak gaul menurut mereka.

Perkara ini tidak berhenti di situ. Orang-orang kebanyakan menjadi memicingkan mata kepada keluargaku. Karena jarang bahkan tak pernah bergabung dalam arisan itu, rumah kami tak kunjung diperbaiki, dan motor tetap itu itu aja. Sedangkan yang lain, semakin menumpuk arisan ibu-ibu, gonta-ganti motor, geber sana sini, dan berlagak bak sosialita kelas desa. Semakin ke sini kami semakin terpojok. Hadirku di kumpulan muda-mudi juga semakin tersudut karena politisasi seorang pemudi yang mendominasi kepengurusan. Itulah sebabnya aku menjadi sedikit pasif. Karena sewaktu aku aktif pun, aku disindir dan disingkirkan. Maka biarkan aku menjadi penonton setia, dari dirinya yang seakan menjadi penguasa. Ini sungguh. Aku tak mengada-ada. Maka dari itu, aku lebih suka berorganisasi, berkegiatan di luar wilayah rumahku. Sangat disayangkan. Sebenarnya aku sangat terinspirasi oleh teman sejawatku; Ruri. Aktivis baik hati, berani, dan cerdas. Menulis cadas, tajam, dan penyayang.

Sudah lebih dari 10 hari, separuh rumahku sudah dihancurkan dan dibangun ulang. 13 hari yang lalu, aku dan keluargaku memboyong perabotan dari rumah ke gubuk tempat penyimpanan sementara. Saat itu juga, sedang berlangsung arisan heboh ibu-ibu sosialita itu. Dan kami pun asik sendiri, dengan guyonku yang lucu tapi retjeh. Haha. Dan kau tahu, bagaimana ekspresi ibu-ibu itu? MEMICINGKAN MATA! Terlebih si Mbak yang selalu memimpin, eh sok memimpin. Semua terheran, kaget, dan terbelalak, jika Mamaku mampu mengumpulkan uang, dan membangun rumah kami dari 0. Semua tak pernah mengira, bahwa uang yang selama ini tak pernah diikutkan pada arisan, selama ini telah menjadi tabungan haji dan tabungan untuk material membangun rumah. Semua terbelalak, ketika yang mereka pikir “Si Miskin” ialah Mamaku, yang jarang terlihat glamour dan nongki-nongki sosialita, ternyata terlalu visioner.

Hampir 5 tahun, dan semuanya terjawab. Bahwa Mamaku yang bekerja seorang diri, bukanlah sosok yang sepele. Selama ini, tak pernah ia cemburu dengan keadaan orang lain. Ia selalu fokus dengan biaya kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Ia tak goyah, meski banyak cibiran datang menerpa wajahnya.

“Jare gajine jutaan. Mosok ramelu arisan.”

“Laiyo, omah e yo ra didandani.”

“Gene, aku sing mung buruh kasar isoh nganggo gelang emas.”

“Iyo, anak e wadon yo ora dinggoni ali-ali.” (Ali-ali berarti perhiasan)

Mengerikan dan sungguh menyakitkan. Aku selalu membujuknya untuk melawan, tapi ia enggan.

“Biarkan saja. Mama itu masih kuat. Yang penting kamu sekolah, selesai, bisa mandiri, Mama dah senang. Insha Allah Mama bisa berangkat haji juga karena Mama nabung sendiri.”

Terkadang tidak jarang Mamaku berkata, ia rela menjual perhiasannya untuk memenuhi UKT atau biaya pembangunan rumah. Juga niat untuk menjuap rumah kami di Denpasar. Tapi selalu kucegah.

Aku selalu banyak belajar bersamanya. Meskipun pemikirannya sangat praktis. Lulus kuliah kemudian bekerja dan menikah. Sedangkan aku lebih cenderung bersantai. Tapi kegigihannya, keteguhannya, cita-cita mulia yang ia pegang selama ini adalah mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana, mapan, dan berkeluarga. 

Sekalipun banyak cuitan yang menyakitkan, jawabnya hanya singkat, “Yang terpenting, aku nggak minta makan sama dia. Jadi kenapa harus repot-repot ngurusin mereka.”

Inilah narasi pembuktian. Bahwasanya Mamaku bukanlah penimbun harta, pecinta dunia. Mamaku sangat baik budinya. Meskipun dari kanak-kanak hingga renta ia masih saja belum tergolong kaya, ia tabah menerima. Ia tahu, Tuhan Mahaadil, rizqiNya tak mungkin salah alamat, waktunya selalu akurat, dan jumlahnya tepat.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk merendahkan orang lain, atau meninggikan sepihak. Melainkan untuk membukakan mataku, bahwa perjuangan belum berakhir. Perjuangan Mama masih sedikit lagi.

Tulisan ini aku dedikasikan penuh untuk semua kalangan. Agar kita paham, bahwa setiap orang memiliki cita-cita dalam kehidupannya masing-masing. Jangan samakan isi pikiran seorang dengan yang lain. Jangan seragamkan kehidupan seorang dengan yang lain. Karena sejatinya setiap insan memiliki hak hidupnya masing-masing. Namun, jangan sampai meninggalkan kontak sosial dengan masyarakat. Karena kita selalu hidup berdampingan, saling membutuhkan. Juga sayangilah orang tuamu. Tak pernah ada orang tua yang berniat baik menjerumuskanmu. Dan hargai penuh perjuangan mereka. Meskipun sering kali tak sejalan dengan zaman dan idealisme kita kaum muda.

Untukmu, Mama. Meski aku belum bisa berlaku apa-apa, dan hanya kata terima kasih, uh, dan sedikit bentakan yang kuberikan, bukan berarti aku tidak paham perjuangan Mama. Aku juga akan segera menjadi seperti Mama. Memiliki cita-cita besar untuk anak-anakku. Karena aku tahu, jika Mama tak berkenan menguliahkan aku dan kakakku, maka dari dulu mungkin dirimu sudah mengenakan tas branded, perhiasan beraneka rupa, membeli mobil, arisan dengan banyak nama, dan berhura-hura semaunya. Tapi aku tahu, Mama memang bukan orang kaya, bahkan sampai Mama menjadi tua. Maka dari itu, Mama ingin aku lebih dari Mama. Tak ada harta yang mampu kau wariskan, sehingga kau bekali aku dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Agar kelak, aku hidup bukan untuk meneruskan harta, tapi meneruskan generasi yang lebih gemilang.

Album: foto separuh rumahku yang direnovasi

Penampakan depan sebelum dihancurkan

Penampakan dalam rumah

Penampakan samping rumah

Advertisements

2 thoughts on “Narasi Pembuktian

  1. Tidak perlu berkecil hati meskipun dicibir dan mendapatkan perlakuan yg buruk. Menurut saya zaman sekarang itu aneh, seharusnya klo melihat orang yg kedudukannya lebih rendah, entah itu harta, ilmu, atau apapun, seharusnya harus bersikap rendah hati untuk membesarkan hati orang bersangkutan dan bukan sebaliknya. Paling tidak ucapan yang baik akan memberi energi positif dan memberi sedikit kebahagiaan. Salut sekali bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana. Ibu memang sosok yg luar biasa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s