Catatan Tengah Semester

Sudah saatnya, aku terbangun dari tidurnya puteri tidur. Sudah waktunya, jangan lagi bergantung pada kebiasaan lama. Kelak, aku akan hidup lebih keras lagi, besok tak ada lagi kenyamanan, bahkan sekadar untuk mengulum senyum pada diri sendiri. Sebab dunia mampu berubah kapan saja, dampaknya pada siapa saja.

Aku tak pernah mampu membayangkan suatu keburukan terjadi, siapa yang ingin hidupnya dirundung sedih? Tapi kenyataan berkata lain, Tuhan berencana lain. Aku tak pernah tahu bagaimana semua hal bisa terjadi semudah waktu berlalu. Silih berganti, sampai aku sendiri tak mampu menyamakan langkah hingga terseok-seok, terluka, bahkan hingga hampir mati. Baiklah, biarkan luka itu membekas. Bukti bahwa hidup memang harus menyisakan sebuah pelajaran. Di sini, aku akan mencatat sedikit yang kulalui, selama setengah semester yang tak tahu sejak kapan terjadi dan pada saat apa diakhiri. Kuharap kau tak pernah meninggalkan laman ini dengan otak kosong tanpa mengambil pelajaran dari tulisanku. Aamiin.

Percayalah, dunia tidak seburuk yang kita semua kira. Keadaan yang menyudutkan kita tidak sepenuhnya bersalah atas kegagalan atau keterpurukan yang menimpa kita. Pun kebahagiaan belum tentu memberi keabadian. Yakinlah, semuanya moderat, ta pernah timpang sebelah.

Suatu hari, aku merasakan posisi terbawah dalam hidup. Posisi di mana yang tak pernah kuinginkan. Tempat di mana mimpi yang tak pernah mau aku wujudkan. Tapi, Tuhan memberi kesempatanku, untuk menyelam lebih jauh. Jauh ke dalam kenyataan yang begitu pahit. Sesungguhnya kekuatan yang sebenarnya, yang mampu membangkitkanku saat itu ialah kebaikan. Kebaikan dari banyak orang yang bahkan tak pernah kusangka. Aku yang kecil hatinya, tak pernah mampu membendung kebahagiaan ini. Cinta dan kasih sayang yang begitu luar biasa dari siapapun saat itu. Begitulah hingga aku mampu kembali berdiri, menatap langit kembali, mengucap syukur padaNya lagi dan terus.

Aku sejatinya hanyalah sajak-sajak yang tersesak antara kata dan rasa. Sisanya, aku hanya cinta yang tiada arti, tiada timbal balik, hanya langit dan sajak yang mampu menerjemahkan itu.

Aku adalah waktu yang mungkin terus melaju, dan meninggalkan banyak kenangan sekejap, tapi mampu menciptakan kerinduan dalam setiap kedip mata. Aku juga waktu, yang entah sejak kapan dimulai, dan tak pernah tahu kapan Tuhan ingin hentikan. Waktu banyak mengubahku menjadi pribadi yang sebelumnya tak pernah memahami diri, menjadi menghargai diriku lebih lagi. Sebab aku pun juga tak pernah tahu, kapan waktu akan memangkas harapan yang kubangun, atau mengganti kebahagiaan orang yang kusayangi dengan tangisan duka. Juga karena waktu seharusnya menjadi batas kemampuan, bukan kesempatan untuk memaksakan. Dan raga ini adalah perantara untuk tumbuh, bukan senjata untuk membunuh.

Aku adalah hujan di tengah siang. Banyak yang menyayangkan datangku. Tapi merindukanku ketika kerontang menyerbu.

Dari hujan atau panas, kering atau basah, mereka adalah aset. Semuanya tak mampu kuberikan, tapi langit berikan dengan cuma-cuma. Pelangi mampu berwarna, sedang mendung tidak sekadar abu-abu. Langit pagi terkadang putih, sering pula biru. Aku selalu mencintai mereka, warna dan suguhan paling indah. Bahkan saat aku terkapar, saat aku tak mampu bernapas. Yang aku takutkan adalah, aku tertidur lebih lama, dan tak kunjung melihat mereka. Apakah mereka juga merindukanku?

Aku ingin menjadi langit. Sungguh. Kekalnya benar, hadirnya tak diragukan, meski langit hanya menjadi tempat terakhir dari persembahan, dari doa, dari kesusahan, dari keterpurukan. Langit jauh dari bahagia, jauh dari senyum dan tawa. Meskipun begitu, langit tak pernah kemudian pergi meninggalkanmu kan? Sampai ia sendiri diruntuhkan Tuhan suatu saat nanti. Sepertiku, yang suatu saat kemarin atau kemudian hari, runtuh dan lebur dalam masanya.

Aku adalah manusia biasa, gadis menjelang dewasa. Masih sering berdosa, kurang berdoa. Aku sadari, aku yakini, bahwa akan lebih banyak lagi kenangan pahit selama tengah semester kemarin. Tapi aku enggan bagi pada kalian dalam kalimat negatif dan menyalahkan keadaan. Sesungguhnya, sesuatu terjadi karena dua belah pihak menyepakatinya; Tuhan dan aku. Keadaan dan lingkungan hanya perantara yang menguatkan keduanya berjanji dan berkongsi.

Catatan Tengah Semester kuakhiri. Meski sedikit, memang. Karena ada banyak yang tak ingin kubagi. Biar kusimpan sendiri bersama Tuhan. Kelak saat aku kembali dan menghadapNya, aku akan tanyakan jika aku belum paham. Seperti sebelumnya, aku berharap kau semua mendapat sedikit atau barang satu kalimat yang mampu mengubah pikiranmu atau membuatmu tersadar. Kita hanyalah sepersil bagian dari kehidupan di dunia. Percayalah, menjadi kecil bukan berarti tak diindahkan. Tuhan selalu ada, dalam hati, pikiran, dan akal. Bahkan mengalir dalam darah, jika kau selalu menyadarinya.

Terakhir. Seperti kata orang baik, yang sedang maju dalam pemilihan sebuah organisasi besar di sebuah kampus ternama, aku selalu ingin menulis kebaikan karena…

Kata-kata adalah kualitas dirimu. Kelak semoga kamu akan mengerti bahwa menahan diri untuk tidak membuat orang lain tersinggung karena lisanmu, adalah lebih mulia daripada sekadar mengutarakan isi hati.

Ya, meskipun dalam kesehariannya ucapanku belum terlampau baik. Maka, seringlah membaca tulisanku. Hehe:)

Surakarta. Masih hujan.

November 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s